Sabtu, 08 Desember 2012

TEORI - TEORI PSIKOLOGI BELAJAR



A.    Teori Belajar Behavioristik
Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fifik terhadap stimulans. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat da kecenderungan perilaku S-R (stimulus-Respon). Teori Behavioristik:
1.      Mementingkan faktor lingkungan
2.      Menekankan pada faktor bagian
3.      Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif.
4.      Sifatnya mekanis
5.      Mementingkan masa lalu
Beberapa tokoh penting dalam teori belajar behavioristik antara lain adalah:

a.      Edward L. Thorndike
Psikologi aliran behavioristik mulai mengalami perkembangan melalui lahirnya teori-teori tentang belajar yang dipelopori oleh Edward L. Thorndike (1874-1949) pertama kalinya tentang kecerdasan hewan (animal inteligent) pada 1998. Prinsip teori Thorndike adalah belajar asosiasi antara kesan panca indra (sense impression)dengan impuls untuk bertindak (impulse to action). Asosiasi itulah yang menjadi lebih kuat atau lenih lemah dalam terbentuknya atau hilangnya kebiasaan-kebiasaan. Oleh karena itulah, teori Thorndike disebut connectionism atau bond psychology.
           

Pada awal eksperimennya dilakukan dengan mempegunakan kucing. Setelah eksperimen terhadap kucing tersebut berhasil, diteruskan dengan subjek lainnya mulai anjing, ikan, dank era. Awalnya dipilih kucing yang masih muda dibiarkan lapar kemudian dimasukkan ke dalam kotak (puzzle box)bentuk pintu kurungan dibuat sedemikian rupa sehingga jika kucing menyentuk tombol tertentu pintu kotak akan terbuka dan kucign dapat keluar dan mencapai daging yang ditempatkan diluar kotak sebagai penarik bagi kucing yang lapar itu. Pada usaha pertama kucing belum terbiasa memecahkan problemnya, sampai kemudian menyentuh tombol dan pintu terbuka. Waktu yang dibutuhkan dalam usaha pertama agak lama. Percobaan yang sama dilakukan berulang-ulang.
            Dengan terlatihnya proses belajar dari kesalahan (trial and error), maka waktu yang dibutuhkan untuk memecahkan problem itu makin singkat. Hal ini ditafsirkan Thorndike sebenarnya ia tidak mengerti cara membebaskan diri dari kotak itu, tetapi belajar mencamkan dan mempertaruhkan untuk siap berfikir (think trough) mempertahankan respon yang benar dan menghilangkan respon yang salah.
            Eksperimen di atas diharapkan kepada situasi yang belum dikenal dan membiarkan subjek melakukan berbagai aktivitas untuk merespon situasi dan mencoba untuk bersaksi sehingga dapat menemukan keberhasilan dan membuat koreksi sesuatu dengan stimulusnya. Teori koneksionisme disebut juga S.R. Bond Theory dan S.R. Psyochology atau terkenal dengan sebutan “trial and error learning”. Teori ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

1)      Adanya motif yang mendorong altivitas.
2)      Adanya berbagai respon terhadap situasi.
3)      Adanya eliminasi respon-respon yang gagal atau salah.
4)      Adanya kemajuan reaksi-reaksi dalam mencapai tujuan.



Menurut Thorndike, dasar proses belajar pada hewan maupun pada manusia adalah sama. Baik belajar pada hewan maupun pada manusia, mengacu pada tiga hokum belajar pokok, yaitu:
a)      Law of readiness ialah reaksi terhadap stimulus yang didukung oleh kesiapan untuk bertindak dan bereaksi itu-reaksi itu menjadi memuaskan.
b)      Law of exercise ialah hunungan stimulus respon apabila sering digunakan akan makin kuat melalui repetition (pengulangan).
-          Law of use
Hubungan stimulus respon bertambah kuat jika ada latihan.
-          Law of disuse
Hubungan stimulus respon bertambah lemah jika latihannya dihentikan.
c)      Law of effect ialah menunjukkan kepada makin kuat atau lemahnya hubungan sebagai akibat dari pada hasil respon yang dilakukan.
Hasil dari semua perbandingan dari berbagai cara itu sama saja, yaitu teori koneksisme. Koneksi (hubungan) yang membawa hadiah selalu bertambah kuat, sedangkan koneksi yang membawa hukumannya hanya sedikit saja bertambah lemah. Teori Thorndike member pengaruh yang besar sekali dalam masalah belajar.
b.      Ivan Petrovitch Pavlov
            Pavlov adalah seorang psikolog asal rusia. Pada tahun 1920 Pavlov melakukan percobaan terhadap anjing yang diberi stimulus bersyarat sehingga terjadi reaksi bersyarat pada anjing. Dari hasil percobaannya, sinyal (pertanda) memainkan peran yang sangat penting dalam adaptasi hewan terhadap sekitarnya. Makanan disebut perangsang tak bersyarat (unconditioned stimulus, disingkat US), sedangkan keluarnya air liur karena makanan disebut reflex tak bersyarat (unconditiones relex, di singkat CR). Pertanda atau sinyal itu disebut dengan pertangsang bersyarat (conditioned stimulus, di singkat CS).
Teori classical conditioning yang ditemukan Pavlov didasarkan pada tiga proses, yaitu: pertama, penyamarataan (generalization)sebab respon dikondisikan dengan kehadiran stimulus yang sama melalui keluarnnya air liur. Kedua, perbedaan (descimination) untuk merespon apabila ada perangsang makanan ke mulutnya. Ketiga, pemadaman (extintion) terjadi ketika stimulus disajikan berulang-ulang tanpa adanya stimulus berupa makanan.
            Kesimpulan dari percobaan Pavlov ialah apabila stimulus yang diadakan (CS) selalu disertai dengan stimulus penguat (UCS), stimulus tadi (CS), sepat atau lambat, akan menimbulan respon atau perubahan yang kita kehendaki dalam CR. Skinner berpendapat bahwa percobaan Pavlov itu tunduk terhadap dua macam hokum yang berbeda, yakni: law of respondent conditioning atau hokum pembiasaan dan law of respondent extinction atau hokum pemusnahan yang dituntut.
Law of respondent conditioning ialah jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks ketiga yang terbentuk dari respon penguatan refleks dan stimulus tadi adalah CS dan CR. Sebaliknya, law of respondent extinction ialah jika refleks yang sudah diperkuat melalui respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan kekuatan, maka kekuatannya akan menurun.

c.       Burrhus Frederic Skinner

Teori operant conditioning oleh B.F. Skinner tahun 1930, melalui eksperimen seekor tikus yang ditempatkan dalam sebuah peti yang kemudian terkenal dengan nama “Skinner Box”. Eksperimen skinner mempunyai kemiripan dengan teori trial and error learning oleh Thorndike.tingkah laku belajar menurut Thorndike selalu melibatkan kepuasan, sedangkan menurut Skinner fenomena tersebut melibatkan reinforcement/penguatan. Kedua teori ini secara langsung atau tidak mengakui arti penting law of effect.
Dalam eksperimen terhadap tikus-tikus dalam kotak, digunakan suatu tanda untuk memperkuat respon (disciminative stimulus) berupa tombol lampu dan pemindah makanan.Reinforcement stimulus tersebut berupa makanan.Teori semacam ini mengacu pada dua hukum yang berbeda,yakni law operant conditioning jika timbulanya tingkah laku operant diinringi dengan stimulus penguat,maka kekuatan tingkah laku tersebut akan meningkat.Sebaliknya,menurut law of operan extinction, jika timbulnya tingkah laku operant yang telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan tingkah laku tersebut akan menurun atau padam.Hukum-hukum ini pada dasarnya sama dengan hukum yang melekat dalam proses belajar teori classical conditioning.Karena mempunyai kesamaan, oarang sering merasa kebingunganb membedakan keduanya.

d.      Robert Gagne ( 1916-2002).

Gagne adalah seorang psikolog pendidikan berkebangsaan amerika yang terkenaldengan penemuannya berupa condition of learning. Menurut pemahaman Robert Gagne dalam (http://moshimoshi.netne.net/materi/psikologi pendidikan/bab7.htm Diunduh pada tanggal 29 maret 2012 pukul 14.00) pelopor dalam instruksi pembelajaran yang dipraktekkannya dalam training pilot AU Amerika. Ia kemudian mengembangkan konsep terpakai dari teori instruksionalnya untuk mendisain pelatihan berbasis komputer dan belajar berbasis multi media. Teori Gagne banyak dipakai untuk mendisain software instruksional.

Gagne disebut sebagai Modern Neobehaviouris mendorong guru untuk merencanakan instruksioanal pembelajaran agar suasana dan gaya belajar dapat dimodifikasi. Ketrampilan paling rendah menjadi dasar bagi pembentukan kemampuan yang lebih tinggi dalam hierarki ketrampilan intelektual. Guru harus mengetahui kemampuan dasar yang harus disiapkan. Belajar dimulai dari hal yang paling sederhana dilanjutnkanpada yanglebih kompleks ( belajar SR, rangkaian SR, asosiasi verbal, diskriminasi, dan belajar konsep) sampai pada tipe belajar yang lebih tinggi(belajar aturan danpemecahan  masalah). Prakteknya gaya belajar tersebut tetap mengacu pada asosiasi stimulus respon.

 

e.       Albert Bandura (1925-masih hidup)

Bandura lahir pada tanggal 4 Desember 1925 di Mondare  alberta berkebangsaan Kanada. Ia seorang psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri. Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya.
Faktor-faktor yang berproses dalam belajar observasi adalah:
1.      Perhatian, mencakup peristiwa peniruan dan karakteristik pengamat.
2.      Penyimpanan atau proses mengingat, mencakup kode pengkodean simbolik.
3.      Reprodukdi motorik, mencakup kemampuan fisik, kemampuan meniru, keakuratan umpan balik.
4.      Motivasi, mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri.
Selain itu juga harus diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip prinsip sebgai berikut:
1.      Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya.
2.      Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya.
3.      Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan dihargai dan perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat.
Karena melibatkan atensi, ingatan dan motifasi, teori Bandura dilihat dalam kerangka Teori Behaviour Kognitif. Teori belajar sosial membantu memahami terjadinya perilaku agresi dan  penyimpangan psikologi dan bagaimana memodifikasi perilaku.
Teori Bandura menjadi dasar dari perilaku pemodelan yang digunakan dalam berbagai pendidikan secara massal.
Ø  Aplikasi Teori Behavioristik terhadap Pembelajaran Siswa
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan teori behavioristik adalah ciri-ciri kuat yang mendasarinya yaitu:
a.       Mementingkan pengaruh lingkungan
b.      Mementingkan bagian-bagian
c.       Mementingkan peranan reaksi
d.      Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon
e.       Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya
f.       Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan
g.      Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan.

Sebagai konsekuensi teori ini, para guru yang menggunakan paradigma behaviorisme akan menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap, sehingga tujuan pembelajaran yang harus dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. Guru tidak banyak memberi ceramah, tetapi instruksi singkat yng diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi. Bahan pelajaran disusun secara hierarki dari yang sederhana samapi pada yang kompleks.
Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu. Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Kesalahan harus segera diperbaiki. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behavioristik ini adalah tebentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif. Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang tampak.
Kritik terhadap behavioristik adalah pembelajaran siswa yang berpusat pada guru, bersifaat mekanistik, dan hanya berorientasi pada hasil yang dapat diamati dan diukur. Kritik ini sangat tidak berdasar karena penggunaan teori behavioristik mempunyai persyartan tertentu sesuai dengan ciri yang dimunculkannya. Tidak setiap mata pelajaran bisa memakai metode ini, sehingga kejelian dan kepekaan guru pada situasi dan kondisi belajar sangat penting untuk menerapkan kondisi behavioristik.
Metode behavioristik ini sangat cocok untuk perolehan kemampaun yang membuthkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti : Kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya, contohnya: percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.
Penerapan teori behaviroristik yang salah dalam suatu situasi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai central, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. Murid dipandang pasif , perlu motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru. Murid hanya mendengarkan denga tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oelh para tokoh behavioristik justru dianggap metode yang paling efektif untuk menertibkan siswa.
B.     Teori belajar kognitif
Aliran kognitif berupaya mendeskripsikan apa yang terjadi dalam diri seseorang ketika ia belajar. Teori ini lebih menaruh perhatian pada peristiwa-peristiwa internal. Belajar adalah proses pemaknaan informasi baru dengan jalan mengaitkannya dengan struktur informasi yang telah dimiliki. Belajar terjadi lebih banyak ditentukan karena adanya karsa individu. Penataan kondisi bukan sebagai penyebab terjadinya belajar, tetapi sekedar memudahkan belajar.
Keaktifan mahasiswa menjadi unsur yang sangat penting dalam menentukan kesuksesan belajar. Kini teori ini diakui memiliki kekuatan yang dapat melengkapi kelemahan dari teori behavioristik bila diterapkan dalam pembelajaran. Munculnya Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), keterampilan proses, dan penekanan pada berpikir produktif merupakan bukti bahwa teori kognitif telah merambah praktek pembelajaran. Namun operasionalisasi dari teori ini nampak tertinggal jauh jika dibandingkan dengan teori bahavioristik.
Bahasan singkat ini berupaya mendeskripsikan bagaimana pemanfaatan teori-teori ini dalam mengembangkan strategi pembelajaran di Perguruan Tinggi, terutama dalam menata lingkungan belajar agar muncul prakarsa belajar dalam diri mahasiswa. Juga tentang unsur apa yang terpenting yang perlu ada dalam lingkungan belajar mahasiswa. Semuanya diarahkan agar mahasiswa dapat belajar dengan caranya yang terbaik sehingga mereka dapat bertumbuh dan berkembang sesuai dengan potensinya.





Ø  Teori Modifikasi Perilaku Kognitif
Meichenbaum menyatakan bahwa individu dapat diajarkan untuk memantau dan mengatur perilakunya sendiri. Cara yang digunakan yaitu melatih individu yang terganggu emosionalnya untuk membuat dan menjawab pertanyaannya sendiri. Ada 5 tahap kegiatan belajar mandiri yang dikembangkan Meichenbaum, yaitu:
1.      Model orang dewasa melakukan tugas tertentu sambil berbicara dengan keras (Modeling kognitif).
2.      Anak melakukan tugas yang sama di bawah arahan pembelajaran dari model (Bimbingan eksternal).
3.      Anak melakukan tugas sambil membelajarkan diri sendiri.
4.      Anak membelajarkan dirinya sendiri dengan cara berbicara pelan pada saat melanjutkan tugas.
5.      Anak melakukan tugas untuk mencari kinerja tertentu dengan melakukan percakapan diri sendiri.

a.      Pemahaman pencerahan (insight)
Menurut aliran Gesalt, kegiatan belajar menggunakan insight adalah pemahaman terhadap hubungan-hubungan, terutama hubungan antara – bagian dan keseluruhan. Tingkat kejelasan dari apa yang diamati dalam situasi belajar adalah lebih meningkatkan belajar seseorang dari pada hukuman dan ganjaran.
Orang yang dipandang didapatkan pemecahan problem yang merupakan inti belajar. Jadi, yang penting bukanlah mengulang-ulang hal yang harus dipelajari, melainkan mengertinya, mendapatkan insight. Ada enam macam sifat khas belajar dengan insight sebagai berikut:
1)      Insight tergantung atas kemampuan dasar. Perbedaan individual dalam hal kemampuan dasar antara individu yang satu dan individu yang lain, masa kanak-kanak pada umumnya masih sangat sukar untuk belajar.
2)      Insight didahului melalui periode mencoba-coba. Sebelum dapat memperoleh insight, orang harus sudah meninjau problemnya di berbagai arah dan mencoba-coba memecahkannya.
3)      Pengalaman masa lampau seseorang yang relafan mempengaruhi insight seseorang.
4)      Belajar dengan insight dapat dilakukan berulang-ulang (refetition).
5)      Insight dapat digunakan untuk menghadapi situasi-situasi baru.
6)      Insight terjadi apabila situasi belajar dikondisikan sedemikian rupa melalui pengaturan secara eksprimental

b.      Teori belajar dari Kurt Lewin
Menurut teori Lewin, adanya asosiasi tidak memberikan “motor penggerak” bagi aktivitas mental. Menurutnya, akan selalu ada tegangan yang perlu pada tiap aktivitas. Belajar berlangsung sebagai akibat dari perubahan dalam struktur kognitif. Perubahan struktur kognitif hasil dari dua macam kekuatan, satu dari struktur medan kognisi dan lainnya dari kebutuhan dan motifasi internal individu. Motivasi mempunyai peran penting dalam belajar dari hadiah  dan hukuman.
Perubahan struktur kognitif (pengetahuan) dapat terjadi karena pengulangan situasi perlu diulang-ulang dalam strukturnya berubah. Hal yang terpenting bukanlah ulangan itu terjadi, melainkan struktur kognitif yang berubah. Terbukti, daya eksperimen mengenai insight bahwa terlalu banyak ulangan tidak menambah belajar, sebaiknya mungkin menyebabkan kejenuhan psikologi yang menyebabkan kekaburan dalam struktur kognitif.
Pengalaman dalam belajar merupakan ciri perubahan struktur kognitif.struktur kognitif itu juga berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan yang ada pada individu. Kekuatan psikologis yang bersangkutan dengan suatu kebutuhan dapat berakibat salah satu diantara dua keadaan berikut :
1)      Hal itu mengakibatkan locomotion dalam arah kekuatan itu, artinya kebutuhan itu dipuaskan dengan jalan biasa, belajar yang baru tak perlu lagi, dan struktur kognitif tetap baik.
2)        Kekuatan itu dapat mengakibatkan perubahan dalam struktur kognitif. Locomotion dimungkinkan artinya hubungan-hubungan dalam situasi dilihat dengan pandangan (cara) baru sehingga kebutuhan dapat dipuaskan.

Teori belajar modifikasi perilaku koginitif ini menekankan pada modeling percakapan diri sendiri secara meningkat berpindah dari perilaku yang dikendalikan oleh orang lain kepada perilaku yang dikendalikan oleh diri sendiri, di mana individu menggunakan percakapan diri sendiri pada waktu melaksanakan tugas.


C.     Teori Belajar Humanistik
Menurut Teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambatlaun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.
Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada proses belajar, ialah :
1.      Proses pemerolehan informasi baru.
2.      Personalia informasi ini pada individu.
Menurut Tokoh-tokoh penting teori belajar humanistik dalam http://www.slideshare.net/jayamartha/teori-belajar-dan-pembelajaran-6-teori-belajarhumanistik  secara teoritik antara lain adalah: Arthur W. Combs, Abraham Maslow dan Carl Rogers.

a.      Arthur Combs (1912-1999)
Bersama dengan Donald Snygg (1904-1967) mereka mencurahkan banyak perhatian pada dunia pendidikan. Meaning (makna atau arti) adalah konsep dasar yang sering digunakan. Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain hanyalah dati ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya.
Untuk itu guru harus memahami perlaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain. Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.
Combs memberikan lukisan persepsi dir dan dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat pada satu. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan besar (2) adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.

b.      Maslow
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal :
1)      Suatu usaha yang positif untuk berkembang
2)      Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.
Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri(self).
            Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan ras aman dan seterusnya. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperharikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar ini mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi.

c.       Carl Rogers
Carl Rogers lahir 8 Januari 1902 di Oak Park, Illinois Chicago, sebagai anak keempat dari enam bersaudara. Semula Rogers menekuni bidang agama tetapi akhirnya pindah ke bidang psikologi. Ia mempelajari psikologi klinis di Universitas Columbia dan mendapat gelar Ph.D pada tahun 1931, sebelumnya ia telah merintis kerja klinis di Rochester Society untuk mencegah kekerasan pada anak.
Gelar profesor diterima di Ohio State tahun 1960. Tahun 1942, ia menulis buku pertamanya, Counseling and Psychotherapy dan secara bertahap mengembangkan konsep Client-Centerd Therapy. Rogers membedakan dua tipe belajar, yaitu:
1)        Kognitif (kebermaknaan)
2)        Experiential ( pengalaman atau signifikansi)
Guru menghubungan pengetahuan akademik ke  dalam pengetahuan terpakai seperti memperlajari mesin dengan tujuan untuk memperbaikai mobil. Experiential Learning menunjuk pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan siswa. Kualitas belajar experiential learning mencakup keterlibatan siswa secara personal, berinisiatif, evaluasi oleh siswa sendiri, dan adanya efek yang membekas pada siswa. Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu:
1)      Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.
2)      Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa
3)      Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
4)      Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses.

Dari bukunya Freedom To Learn, ia menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip dasar humanistik yang penting diantaranya ialah :
1)      Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.
2)      Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri.
3)      Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri diangap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
4)      Tugas-tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil.
5)      Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
6)      Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
7)      Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggungjawab terhadap proses belajar itu.
8)      Belajar inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.
9)      Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengritik dirinya sendiri dan penilaian dari orang lain merupakan cara kedua yang penting.
10)  Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam diri sendiri mengenai proses perubahan itu.





Salah satu model pendidikan terbuka mencakuo konsep mengajar guru yang fasilitatif yang dikembangkan Rogers diteliti oleh Aspy dan Roebuck pada tahun 1975 mengenai kemampuan para guru untuk menciptakan kondidi yang mendukung yaitu
empati, penghargaan dan umpan balik positif.  Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah :
1)      Merespon perasaan siswa
2)      Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang
3)      Berdialog dan berdiskusi dengan siswa
4)      Menghargai siswa
5)      Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan
6)      Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa (penjelasan untuk mementapkan kebutuhan segera dari siswa)
7)      Tersenyum pada siswa
Dari penelitian itu diketahui guru yang fasilitatif mengurangi angka bolos siswa, meningkatkan angka konsep diri siswa, meningkatkan upaya untuk meraih prestasi akademik termasuk pelajaran bahasa dan matematika yang kurang disukai, mengurangi tingkat problem yang berkaitan dengan disiplin dan mengurangi perusakan pada peralatan sekolah, serta siswa menjadi lebih spontan dan menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi.
                                                           
Ø  Implikasi Teori Belajar Humanistik:
a.      Guru Sebagai Fasilitator
                        Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator yang berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas sifasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa guidenes(petunjuk):
1.      Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas.
2.      Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
3.      Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.
4.      Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
5.      Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
6.      Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok.
7.      Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.
8.      Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa.
9.      Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar
10.  Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk menganali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.

Ø  Aplikasi Teori Humanistik Terhadap Pembelajaran Siswa
            Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.
            Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri, mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.            Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :
1.      Merumuskan tujuan belajar yang jelas
2.      Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan positif.
3.      Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri.
4.      Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri.
5.      Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan.
6.      Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
7.      Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya.
8.      Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa.
           
Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterpkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku.



DAFTAR PUSTAKA

Rifai, Achmad dan Tri Anni, Catharina. 2009. Psikologi Pendidikan.
Semarang: Unnes Press
 

Bahruddin.2009.pendidikan dan psikologi perkembangan.
Jogjakarta : Ar-ruzz media

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar